WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
Hi, how can I help?

Category: Articles

Penyebab daya tahan tubuh anak menurun

 

Daya tahan tubuh atau biasa disebut sistem imun sangatlah penting untuk menjaga daya tahan tubuh pada anak. Hal ini dikarenakan sistem imun berguna untuk menjaga tubuh dari serangan virus atau bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit. Namun terkadang orangtua jarang mengetahui bahwa sistem imun anaknya terkadang menurun. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat membuat sistem imun menurun.

  1. Terlalu banyak mengosunsumi makanan atau minuman yang mengandung garam dan gula

 

Penelitian mengatakan bahwa terlalu banyak mengonsumsi garam berlebih akan membuat ginjal mengeluarkan efek domino, yaitu kurangnya kemampuan tubuh melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sedangkan apabila anak mengonsumsi gula berlebih dapat menurunkan kemampuan sel imun yang seharusnya dapat melawan bakteri yang masuk ke tubuh manusia.

Informasi anjuran konsumsi gula dan garam dalam satu hari :

  • Usia 4 hingga 6 tahun : 3 gram garam
  • Usia 7 hingga 10 tahun : 5 gram gara,
  • Usia 2 hingga 18 tahun : kurang dari 25 gram gula
  1. Kurang aktif berolahraga

Di zaman yang serba modern ini banyak anak-anak yang kecanduan dalam bermain game dan tidak bergerak aktif. Padahal jika anak bergerak aktif maka sistem imun akan meningkat dan membentuk antibody. Mulailah mengajak anak untuk setidaknya berjalan kaki di dalam rumah selama 20 menit dan lakukan empat kali dalam seminggu untuk menjaga daya tahan tubuh anak.

  1. Kurangnya jam tidur

Tidur adalah hal yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Jika anak tidak tidur sesuai waktu normal maka anak dapat rentan terserang penyakit seperti flu.

  1. Kurang asupan serat

 

Serat memiliki fungsi untuk menjaga pencernaan menjadi baik dan membantu keseimbangan bakteri baik di dalam usus yang dapat menambah sistem imun pada anak. Tentu saja untuk mendapatkan sumber serat, Anda dapat memberi menu makanan dan gizi yang seimbang kepada anak. Nutrisi ini dapat melindungi anak dari virus dan bakteri serta memperkuat antibodi sehingga membuat anak menjadi jarang sakit.

Cegah Anak Sakit Saat Liburan Panjang

Liburan panjang adalah waktu tepat untuk mengasah anak dengan kegiatan lainnya selain belajar di sekolah sekaligus melakukan kegiatan yang menyenangkan. Oleh sebab itu, sebagian anak akan tetap aktif melakukan aktivitas walaupun sedang tidak bersekolah. Melakukan kegiatan di rumah membuat anak bergerak lebih aktif dan  tubuh anak menjadi mudah lelah serta butuh perlindungan ekstra.

Selain anak akan cepat lelah, liburan bisa dapat membuat anak stress jika tidak melakukan kegiatan yang menarik. Berikut adalah tips mencegah anak jatuh sakit saat liburan panjang.

  1. Mengajari anak membiasakan cuci tangan

Bermain di tempat yang kotor, bersalaman dengan saudara atau pergi ke tempat wisata tertentu dapat mengakibatkan adanya virus atau bakteri yang akan menyerang anak. Agar virus dan bakteri tersebut tidak menyerang tubuh anak, Anda dapat mengajari anak untuk terbiasa mencuci tangan yang kotor. Ajarilah anak untuk mencuci tangan dengan benar dan biasakan hal ini sedari dini agar anak terbiasa melakukan kebiasaan yang sehat.

  1. Minum cukup air

 

Setelah mencuci tangan, tahap selanjutnya untuk mencegah anak jatuh sakit adalah mencukupi kebutuhan minum agar tidak dehidrasi. Ingatkan anak untuk membawa botol air setiap akan keluar dan beraktivitas bersama dengan teman-teman ataupun saudaranya.

  1. Makan dengan baik

 

Makanan menjadi sumber energi yang baik untuk anak dalam melakukan kegiatan yang ia lakukan di rumah maupun di luar rumah. Terlebih lagi, Anda harus mengingatkan anak Anda untuk tidak menunda makan dan porsinya cukup untuk anak Anda.

  1. Tidur cukup dan buat si kecil tidak stress

 

Untuk membuat sistem imun menjadi kuat, pastikan anak cukup tidur. Meskipun liburan sekolah, Anda harus ingatkan agar anak tidak tidur terlalu malam karena akan membuat jam tidur menjadi berantakan dan kualitas tidur menjadi buruk.

Lalu jangan lupa untuk menghabiskan liburan dengan hal-hal menyenangkan seperti jalan-jalan ke taman, belajar dan bermain di museum atau makan bersama dengan anak untuk mempererat hubungan Anda juga dengan anak.

 

Dampak Orangtua Sering Berbohong Kepada Anak

“Kalau kamu nggak jadi anak baik, nanti bapak satpam datangi kamu” Kalimat seperti ini mungkin akan sering di dengar dari mulut orangtua kepada anaknya. Ucapan yang bohong ini terkadang dilakukan orangtua agar anaknya dapat melakukan apa yang mereka minta. Menurut studi, hal seperti ini dapat membuat anak kelak saat dewasa akan menjadi seorang pembohong. Dalam sebuah riset terdapat 379 orang dewasa Singapura yang diberikan pertanyaan seputar kebiasaan bohong yang pernah diucapkan oleh orangtua mereka pada saat mereka kecil hingga sekarang dan bagaimana cara orangtua mereka dalam menghadapi masalah. Hasil dari riset tersebut adalah banyak peserta yang memiliki orangtua yang suka berbohong cenderung mengucapkan kebohongan di saat dewasa. Peserta juga menunjukkan hasil bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menghadapi berbagai tantangan dan cenderung bersikap egois, memanipulasi sesuatu dan sering melakukan kesalahan.

 

Ketika seorang anak mengetahui bahwa kedua orangtua melakukan sebuah kebohongan, kepercayaan pada anak akan hilang dan tidak sepatutnya orangtua berbohong kepada anak karena hal tersebut memberikan contoh yang buruk dan memungkinkan anak melakukan hal yang sama di suatu hari nanti atau bahkan menjadi lebih buruk.

Orangtua harus menerapkan sikap kejujuran kepada anak dan harus dimulai dari diri sendiri. Sebagai orangtua, kita dapat menjelaskan kepada anak tanpa harus berbohong dan sesuaikan dengan kemampuan menangkap anak.

 

Sebuah contoh sebuah nasehat, akan lebih baik jika orangtua mengucapkan, “kalau kamu tidur terlalu malam, besok kamu akan telat ke sekolah” dari pada Anda mengatakan, “kalau kamu tidak segera tidur, nanti monster akan mendatangimu dalam mimpi.”

Berbagai pilihan kata untuk mengatur hal seperti ini dapat dilakukan dan tanpa menimbulkan persepsi lain kepada anak yang bisa menyesatkan. Sebaiknya ucapkan hal jujur karena hal tersebut dapat memberi tahu anak akibat dari sebuah tindakan yang dilakukan. Menerapkan kejujuran juga harus disertai Anda dapat menepati janji. Jika Anda bisa tepati janji kepada anak, tentu anak akan memberikan kepercayaannya pada Anda dan Anda menjadi contoh yang baik bagi anak.

Kenali pemicu takut dan stress si kecil ke sekolah

Ketakutan serta stress merupakan beberapa alasan hingga si kecil tidak mau berangkat ke sekolah. Anda sebagai orangtua harus tahu alasan anak memiliki rasa takut dan stress yang dirasakan anak di sekolah. Berikut adalah penyebab anak takut bahkan tidak mau ke sekolah:

  1. Memiliki masalah dengan teman

 

Memiliki teman di sekolah adalah hal yang menyenangkan, anak dapat bermain dan belajar bersama. Teman bisa menjadi penyebab anak takut atau stress berangkat sekolah seperti tidak memiliki teman di dalam kelas atau memiliki teman tapi mereka bertengkar. Muncul juga pemicunya karena anak merasa tidak bisa bersaing dengan temannya dalam pelajaran akademik maupun non akademik. Dalam menghadapi hal ini, Anda harus mencoba bicarakan masalah ini dari hati ke hati dan beri saran yang terbaik kepada Anak anda untuk menghadapi temannya.

  1. Bullying

Bullying adalah hal yang biasanya sering membuat anak takut serta stress untuk berangkat ke sekolah. Bullying yang dilakukan dapat bermacam-macam, ada yang mendapat kekerasan fisik, perilaku kasar, diejek atau hal lainnya. Anak yang mengalami bullying akan merasa tertekan bahkan depresi sehingga dapat menarik diri dari kegiatan yang ada di sekolah ataupun lingkungan. Dalam mengatasi kasus seperti ini, Anda harus bekerja sama dengan sekolah untuk mendapatkan solusi yang tepat sasaran bahkan jangan malu untuk meminta bantuan psikolog agar dapat menstabilkan kejiwaan anak.

  1. Terlalu banyak kegiatan

 

Anda pasti ingin anak Anda menjadi juara kelas atau mendapat prestasi lainnya. Untuk mendapatkan keinginan tersebut, terkadang orangtua akan mendorong anak mengikuti banyak kegiatan yang membuat prestasinya naik, dari les hingga ekstrakurikuler. Walau membantu, namun jika kegiatannya terlalu banyak anak akan merasa tertekan dan mengalami stress karena tidak dapat mengatur waktu untuk istirahat dan waktu lainnya.

  1. Susah mengikuti pelajaran

Anda mungkin pernah mendengar berbagai keluhan anak dalam belajar. Dari sekian banyaknya pelajaran di sekolah, pasti ada setidaknya satu pelajaran yang tidak anak sukai. Hal ini bisa menyebabkan stress dan tidak mau ke sekolah. Jika anak mengalami hal tersebut, Anda dapat membantunya dalam mengerjakan PR atau memberikan les kepada anak.

  1. Guru

Guru memiliki cara mengajar yang berbeda dan mungkin ada guru yang menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan bagi anak. Seperti guru yang galak atau memberi hukuman yang berat.

Mengenali Perilaku Anak Pada Masa Usianya

 

Setiap orangtua yang memiliki anak harus memperhatikan perilaku si kecil setiap bertambahnya usia. Pasalnya ada beberapa perilaku tidak normal yang ditunjukkan oleh anak dan hal tersebut bisa menjadi pertanda serius tentang masalah perilaku. Berikut ada beberapa ulasan mengenai sikap perilaku si kecil yang normal dan tidak normal di masa usianya:

  1. Perilaku normal usia 4 sampai 5 tahun

Di masa-masa ini, anak-anak sudah mulai menunjukkan sikap mandirinya seperti mengucapkan kata “tidak”, atau “biar aku saja” ketika menghadapi beberapa hal. Kata itu dilontarkan karena anak ingin meyakinkan bahwa ia bisa melakukan sebuah tugas sederhana tanpa bantuan orangtua atau orang lain. Namun saat anak tidak mampu menyelesaikan tugas tersebut sendiri, maka anak akan meminta bantuan untuk melakukan tugasnya.

  1. Perilaku normal usia 6 sampai 9 tahun

Di usia ini anak akan memulai masa sekolah mereka dimana mereka memiliki tanggung jawab lebih banyak dari pada sebelumnya. Seperti harus membersihkan kamar atau menjaga kebersihan. Mungkin di masa ini anak akan merasa malas dan akan melanggarnya, namun Anda dapat menerapkan beberapa hukuman yang mendisiplinkan anak agar mereka mengikuti aturan yang dibuat. Dari hal ini anak juga akan menunjukkan kemampuan dalam memecahkan masalah dia sendiri dan mencoba hal baru dalam hidupnya. Di masa ini jika ia mengalami kegagalan, Anda sebagai orangtuanya harus mendukungnya dan mengajaknya untuk menata emosinya agar anak dapat bangkit kembali.

  1. Perilaku normal usia 10 sampai 12 tahun

Pola pikir yang semakin dewasa membuat anak akan sering menyampaikan pendapatnya. Anda sebagai orangtua harus mengajarkan anak untuk mengambil keputusan dengan bijaksana dan belajar untuk semakin dewasa di usianya.

 

Berikut adalah tanda adanya masalah dalam perilaku si kecil

  • Melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain
  • Suka berbohong atau mencuri
  • Sering merusak sesuatu dan sering bolos
  • Sering tantrum (mengamuk) dan tidak segan-segan memukul atau menggigit
  • Sering melanggar peraturan yang diterapkan di rumah, sekolah, dan lingkungan
  • Suasana hati sangat mudah berubah